Akhirnya, dengan restu kedua keluarga, kami mengikat janji dalam pertunangan. Janji itu bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang keberanian menjaga cinta di tengah jarak, tentang keyakinan bahwa takdir ini harus diperjuangkan, meski perjalanan masih panjang dan rindu tak pernah usai. Meskipun kami tidak bisa bertemu di hari yang penuh doa itu, perasaan kami tetap terikat, terjalin melalui restu, niat, dan cinta yang tak mengenal batas ruang. Pertunangan ini menjadi saksi, bahwa cinta sejati tak selalu harus berdekatan, tapi harus berpegang teguh pada keyakinan dan kesetiaan.