Mata teduh itu kutemukan pada ketinggian 2958 MDPL, ternyata kegemaranku membawa kamu pada penglihatanku saat itu. Kala itu kita bertemu di tempat sunyi di antara udara tipis dan langit yang dekat sekali,
di mana kabut menggantung seperti rahasia,
dan angin berbisik seperti doa-doa yang belum sempat selesai. Waktu itu, aku tidak tahu namamu,
Tapi langkahmu seirama dengan degupku.
Cara kamu menatap langit,
sama seperti aku memandang hidup 
dengan harap, meski belum tahu apa yang menunggu di ujung tanjakan. Dan sejak saat itu,
aku tahu perjalanan ini akan lebih berarti jika kutempuh bersamamu. Akan kujaga kamu seperti seperti bumi membersamai gunung,diam diam tapi penuh daya.