Kisah kita dimulai dari sebuah "like" yang sederhana di media sosial, yang tidak pernah saya duga akan mengubah hidup saya. Saya sering melihat foto-fotomu di Instagram dan terkesima dengan senyummu yang tulus dan caramu memandang dunia. Sampai suatu hari, saya memberanikan diri mengirimkan sebuah Direct Message (DM), "Senyummu menular, saya jadi ikut senyum." ​Tanggapanmu yang ramah dan hangat membuat percakapan kita mengalir begitu saja. Dari hal-hal sepele seperti film favorit hingga impian terbesar, setiap balasan darimu terasa begitu berarti. Ada koneksi yang langsung terasa, seolah kita sudah mengenal satu sama lain sejak lama. ​2 bulan setelah percakapan intens itu, kita memutuskan untuk bertemu. Kencan pertama kita tidak perlu direncanakan secara rumit, hanya makan siang di sebuah kedai kopi yang kita berdua sukai. Namun, momen itu terasa begitu istimewa. Tidak ada kecanggungan, hanya tawa dan percakapan yang tak ada habisnya. Saat kita berpisah, saya tahu, hati saya sudah memilihmu. ​Waktu berjalan begitu cepat. Setiap momen yang kita lalui bersama terasa begitu berarti. Kita melewati tantangan, berbagi kebahagiaan, dan saling mendukung dalam setiap langkah. Saya menemukan dirimu sebagai tempat ternyaman untuk pulang, sebagai sahabat terbaik, dan sebagai satu-satunya orang yang saya inginkan di sisi saya selamanya. ​Hingga akhirnya, di hari yang indah, di tempat pertama kita berkencan, kamu berlutut dan mengucapkan janji suci. Pertanyaan itu keluar dari bibirmu, "Maukah kamu menghabiskan sisa hidupmu bersamaku?" ​Dengan air mata yang tak terbendung, saya menjawab, "Ya, saya mau." ​Cincin yang kini melingkar di jari saya bukan hanya sebagai simbol cinta, tetapi juga sebagai tanda awal dari babak baru dalam hidup kita. Kisah kita mungkin singkat, tetapi penuh dengan makna. Dari dua orang yang tidak saling mengenal di dunia maya, kini kita menjadi satu, siap untuk mengarungi bahtera rumah tangga dan menciptakan kisah-kisah baru yang tak terhitung jumlahnya.